33. YUSUFIRA ALDONA - TUGAS AKHIR
02.11
Spidol warna-warni menggoreskan
dirinya di karton Putih sehingga membentuk rangkaian kata “1 semester lagi!!
Sebentar lagi aku akan mendapatkan gelar Sarjana!!!” akan kutempel di dinding
kamarku yang bernuansa Merah Jambu.
Namaku Yusufira Aldona. Keluarga dan
teman-teman biasa memanggilku Sofi. Aku sangat suka dengan hal-hal yang
berhubungan dengan penyiaran. Inilah alasanku terjun ke dunia Broadcasting di salah satu perguruan
tinggi di Ibu kota negeri ini. Mungkin ini juga menjadi salah satu alasanku
masih bertahan hingga semester terakhir.
“Bunda, aku
jadinya ngambil tugas akhir short movie ya.”
aku menyampaikan pilihanku kepada Bunda yang sedang berbaring di sofa bed ruang keluarga di rumahku.
“Iya, sayang.” jawab
Bunda halus.
Belum aku
memulai percakapan lagi, ternyata Bunda sudah melemparku dengan sebuah pertanyaan.
“Itu sekelompok
kan Dek? Kamu nanti sekelompok sama siapa aja?”
“Iya, Bun. Sama Aida,
Arini, Afif, Adit, dan Teddy. Kami juga
udah nentuin mau cerita tentang travelling
gitu Bun sekalian refreshing
hehehe.” aku berusaha menjelaskan apa yang telah aku tentukan siang tadi di
kampus.
“Hm, kamu pinter
banget nyari kelompok yang anggotanya rajin semua. Semangat ya, sayang!” Pernyataan
Bunda seakan yakin dengan pilihanku.
“Oke Bunda,
terima kasih. Aku masuk kamar dulu ya. Mataku sudah seperti mata boneka Panda
kesayanganku nih, Bun. Good night Bunda
sayang.” jawabku sambil menguap dan melihat ke arah jarum pendek yang mengitari
lingkaran di dinding yang menunjukkan angka 10.
“Good night too, sayang.” Bunda pun
menjawab di saat aku sudah seperempat jalan menuju kamarku.
“KRINGGGG” suara pengingatku sudah
beraksi. Aku langsung bergegas shalat subuh sebelum mandi. Seperti biasa, Bunda
sudah menyiapkan sarapan untukku. Aku menghabiskan sarapanku dan segera pamit
kepada Ayah dan Bunda untuk menemui teman kelompokku di kampus.
Jarak tempuh dari rumahku ke kampus sekitar 45
menit, Alhamdulillah aku tidak
menemukan barisan mobil yang memadati jalan bebas hambatan pagi ini. Tetapi tetap saja, teman-temanku datang lebih
dulu. Aku segera berlari menghampiri mereka di taman belakang kampus. “Huh, lagi-lagi
aku telat kumpul.” Gumamku di dalam hati.
“Alhamdulillah, akhirnya datang juga nih putri
Solo.” Afif melempar ledekannya kepadaku.
“Hm you know lah fif, dari kasur ke kamar
mandi tuh berat banget untuk melangkahkan kaki hahahaha.” jawabku dengan wajah
yang sok imut.
“Yaudah yaudah,
sekarang tentuin tempat nya deh. Bagus nya kita Shooting dimana ya?” tanya Teddy yang memotong pembicaraanku dengan
Afif.
“Bali aja lah”
jawab Aida.
“Iya tuh Bali
aja kan banyak pantai.” sambung Adit.
“Oh aku tau, di
Lombok aja. Di Gili Trawangan, tempat terindah yang pernah aku kunjungi. Akses ke
sananya juga gampang kok. Ayo lah guys
Lombok aja jadiin.” Arini memberikan pendapatnya.
“Hm, gimana
kalau di Bangka aja? Kalau masalah pantai, di Bangka banyak kok pantai.
Kehidupan kita di sana juga bisa aku atur. Ayahku punya rumah di Bangka, dan Alhamdulillah rumahnya ada di tengah
kota Pangkal Pinang. Di Bangka juga ada Bangka
Botanical Garden. Di sana kita bisa ada scene
tentang perjalanan di kebun. Di Bangka juga banyak hutan, nah bisa juga kan tuh
kita jadiin adventure.” aku memberikan
pendapatku yang telah aku pikirkan semalaman.
“Wah! Pantai,
kebun, hutan mah banyak ya dimana aja. Tapi, kalau tempat yang gratis di Bangka
doang nih kita hahahaha. Boleh tuh sof Bangka aja.” Afif setuju dengan
pendapatku.
“Hahahaha yoi
Fif, yaudahlah Bangka aja. Semuanya setuju kan?” tanya Aida.
“Setuju!!!”
jawab semuanya.
Tiga hari kemudian, aku dan lima anggota
kelompok lainnya menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Barang bawaan kami cukup
banyak untuk persiapan dua pekan. Aku
membawa kamera pemberian Bang Farrell, Abangku. Pada saat kuliah, Bang Farrell juga
mengambil jurusan Broadcasting. Kamera
ini layak diacungi jempol dalam hal pembuatan film. Alhamdulillah semuanya
sudah lengkap, izin dari Bunda dan Ayah sudah aku kantongi. Pesawat yang akan
kami tumpangi sudah terlihat, inilah waktunya kami mengadu nasib lulus atau
tidaknya dalam tugas akhir.
Satu jam berlalu, kami tiba di
Bandara Depati Amir, Bangka. Selesai mengambil barang bagasi, kami langsung
masuk ke dalam mobil dengan supir yang menjemput kami. Dalam perjalanan, teman-temanku
terkagum-kagum dengan kota Bangka. Ini adalah kali pertama mereka berkunjung ke
kampung halaman Ayah dan Bundaku. Tak lama berbincang-bincang, kami tiba di
rumah. Kami hanya menghabiskan satu hari di rumah saja untuk beristirahat,
mengingat keesokan harinya kami akan survey
ke beberapa tempat.
Hari telah berganti, kami pergi ke
beberapa pantai dan tempat lainnya. Kami sepakat akan shooting di pantai Parai, Bangka
Botanical Garden, desa Batu Betumpang dan masih banyak tempat yang akan dijadikan
lokasi shooting.
“Guys! Gue baru inget, artis nya siapa? Sumpah gue baru inget kita
selama ini gak kepikiran artis loh!” suara Adit seakan dapat menggoyangkan
mobilku.
“Hahahaha dit!
Panik banget kayanya. Baca chat di
grup dong makanya. Tenang aja, aku udah
minta tolong Adiknya teman Abangku kok 2 orang. Aku juga udah kenal sama
orangnya” jawabku tenang.
Semua pun
mengucap syukur.
Inilah hari pertama aku dan lima
anggota kelompokku shooting. Indri
salah satu aktris kami telat datang ke
pantai Parai karena beberapa alasan. Rundown
yang telah kami buat berantakan. Astaghfirullah,
semoga cobaan ini hanya datang di hari pertama pembuatan short movie. Tetapi semua dapat kami
atasi. Sehingga shooting hari pertama
pun selesai.
Hari kedua dan ketiga berjalan dengan
lancar. Alhamdulillah, Allah telah
mengabulkan doaku. Hari keempat kami mulai dengan pindah lokasi ke Bangka Botanical Garden. Sesampainya
disana, pihak Bangka Botanical Garden
menghampiri dan melempar kami dengan sebuah pertanyaan.
“Selamat siang. Maaf,
ada apa ya ini, kok ramai sekali seperti akan ada pembuatan film?”
“Siang, pak. Oh
iya betul. Saya Sofi Adik dari Bang Farrell. Kemarin Abang saya sudah
menghubungi pihak Bangka Botanical Garden
perihal perizinan.” jawabku sekaligus memperkenalkan diri kepada pihak Bangka Botanical Garden.
“Maaf, kami lupa
mengabarkan lagi. Ternyata pemilik Bangka
Botanical Garden tidak setuju kalau akan ada pembuatan film dalam interval 1-3 bulan ke depan.” jelas Pihak Bangka Botanical Garden.
Dengan berat hati, kami bergegas meninggalkan
tempat yang indah ini. Rasa kecewa menyelimuti hati dan sanubariku. Perihal
waktu dan budget terus menghantui pikiran. Terpaksa
kami membuang waktu satu hari dengan sia-sia. Aku memutuskan untuk ke kebun
Kelapa Sawit milik Paman yang berada di Desa Bedegung sebagai pengganti Bangka Botanical Garden.
Dua hari kami shooting di kebun milik Paman, Alhamdulillah
tidak ada cobaan yang menghampiri. Mungkin masalah yang datang hanyalah rasa
ketakutan Aida terhadap kesepian Desa Bedegung ini. Setiap malam ia tak
henti-hentinya melafadzkan Ayat Kursi di kamar tengah rumah Kakekku di
Bedegung.
Rencana selanjutnya, kami akan ke Desa
Batu Betumpang. Aku menjelaskan sekaligus mengingatkan teman-temanku tentang
keindahan Batu Betumpang. Termasuk saat di atas
perahu. Kita harus ekstra hati-hati apabila sedang melongok ke arah
bawah yakni ke arah laut, karena angin yang kencang dan tidak seimbangnya
perahu dapat membahayakan keselamatan jiwa dan keamanan barang bawaan.
Sesampainya di Batu Betumpang, kami
langsung bergegas ke perahu. Setengah hari shooting
telah berjalan sesuai dengan rencana, walaupun
tiupan angin kencang dan goyangnya perahu ini sedikit mengganggu. Sekarang
waktunya istirahat. Arini nampaknya asik
memotret indahnya ciptaan Sang Khaliq
di sudut perahu menggunakan kamera untuk pembuatan short movie, yakni kameraku.
“Aaaaaa” suara
teriakan Arini terdengar sampai ke telingaku. Aku dan teman-teman yang lain pun
segera menghampirinya.
“Kenapa Rin?” tanya
Aida.
“Kamera aku
kenapa?” tanyaku dengan nada panik.
“Sof, maafin
aku. Kamera kamu jatuh saat aku sedang memotret alam bawah laut. Tadi kan
anginnya kencang banget jadi perahunya goyang dan kameranya gak sengaja jatuh. Maafin
aku, Sof. Nanti kamera ini akan aku perbaiki di Jakarta.” jelas Arini dengan
tangisan terisak-isak.
Aku
diam seakan tak ada kata yang mampu meluapkan betapa kecewanya diriku. Kamera
pemberian Abangku yang kini sedang kami gunakan untuk tugas akhir. Penentu
kelulusanku dan yang lainnya. Kamera satu-satunya yang kami bawa ke Bangka ini,
jatuh dan akhirnya rusak. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak menyangka
Arini akan seceroboh ini.
Sudah tiga hari aku berdiam diri di
kamar. Dering handphone menyadarkanku
dari lamunan, ternyata dari Bang Farrell. Terdengar suara dari seberang sana
bahwa ia menyuruhku ke tempat pengiriman barang untuk mengambil kamera
kirimannya untukku. Ternyata ia sudah mendengar masalahku dari Bunda. Bang
Farrell adalah Abang yang baik. Ia tidak mau aku berkabung dalam kesedihan, ia
mau Adiknya lulus semester ini.
Masalah
sudah selesai, aku pun sudah memaafkan Arini. Kami melanjutkan aktivitas di
Bangka sampai pembuatan short movie
selesai. Sembilan hari berlalu, kami semua kembali ke Jakarta dan langsung
menyerahkan hasil short movie yang
sudah melalui tahap editing kepada
dosen pembimbing. Sidang skripsi akan dilaksanakan lima minggu lagi.
Dua bulan usai mengetahui bahwa aku
lulus sidang skripsi, Kampusku menyelenggarakan Movie Award 2015, short movie
tugas akhir kelompokku menjadi short
movie terbaik 2015. Akhir bulan depan aku akan memakai topi toga. Setelah
itu, aku akan mulai memasuki dunia pekerjaan. Alhamdulillah, terima kasih Bangka. Selamat tinggal Kampus
tercinta, Selamat tinggal tugas akhir!
0 komentar